Kiprah pemuda dalam lintas sejarah

KIPRAH PEMUDA

DALAM LINTASAN SEJARAH

 

 

 

 

Oleh:

  1. 1.    Wahyu Rahmawati
  2. 2.    Barkah Miladina
  3. 3.    Nailul Ifada

 

 

 

 

 

 

Disusun untuk

Mengikuti Lomba Esay Tingkat SMA Se-Madura

Dalam Rangka Dies Natalis Fakultas Hukum XIX 2011

 

 

SMA Negeri  1 Bangkalan

2011
KIPRAH PEMUDA DALAM LINTASAN SEJARAH

  1. I.       Pendahuluan

Masih ingatkah di benak kita tepatnya satu abad yang lalu yaitu pada tahun 1908 ketika para pemuda mendeklarasikan sebuah organisasi dengan nama “Budi Utomo”. Pada saat itulah pemuda-pemuda Indonesia tanpa rasa takut dari bayang-bayang penjajah bersatu untuk mewujudkan suatu gerakan yang menjadi lambang Kebangkitan Nasional. Setelah berdiri Budi Utomo, pergerakan perjuangan pemuda semakin mengkristal dengan diadakannya “Kongres Pemuda II” pada tanggal 28 Oktober 1928. Sejak itulah, pemuda tetap menjadi ujung tombak pada setiap dinamika kehidupan, berbangsa, dan bernegara di tanah air.

Namun nampaknya, sebagian besar pemuda telah berkurang sifat nasionalismenya. Sifat yang merupakan salah satu unsur terpenting dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara. Sifat yang pada zaman penjajahan dahulu sangat dijunjung dan merupakan ciri khas seorang pemuda. Salah satu penyebab dari hilangnya sifat nasionalisme pemuda  tak lain karena adanya arus globalisasi. Masa yang sangat penuh dengan modernisasi membuat pemuda masa kini memiliki sifat materialistik. Sehingga, pemuda yang seharusnya menjadi pelopor masa depan bangsa malah jatuh kedalam jurang materialisme yang tidak terkontrol. Hal ini didasarkan pada realita yang menunjukkan bahwa sebagian besar gerakan-gerakan pemuda tidak sepenuhnya murni sebagai gerakan yang berpihak kepada masyarakat luas yang memperjuangkan kehidupan yang lebih positif. Gerakan-gerakan inilah yang secara langsung maupun tidak langsung mencederai kepercayaan masyarakat luas terhadap pemuda. Kepercayaan terhadap sikap-sikap pemuda yang mampu memberi perubahan baik di bidang sosial maupun budaya. Kepercayaan yang dahulunya tercurahkan penuh tanpa adanya keraguan sedikitpun.

 

Permasalahan

  1. Mengapa gerakan-gerakan atau aksi pemuda tidak sepenuhnya memperjuangkan kehidupan berbangsa?
  2. Mengapa pemuda sulit untuk mengambil tanggung jawab atau amanah?
  3. Bagaimana mengembalikan sifat nasionalisme pemuda?

 

Tujuan

  1. Untuk mengetahui alasan mengapa gerakan para pemuda tidak sepenuhnya memperjuangkan kehidupan berbangsa.
  2. Untuk mengetahui alasan mengapa pemuda sulit mengambil tanggung jawab atau amanah.
  3. Mengetahui cara untuk mengembalikan sifat nasionalisme pemuda

 

 

 


  1. II.   Pembahasan

Nasionalisme adalah suatu sifat mencintai tanah air. Ini merupakan unsur terpenting dalam menjaga keutuhan suatu bangsa dan negara, karena tanpa adanya sifat cinta terhadap tanah air tentu akan membuat banyak gejolak sehingga kehancuran terhadap bangsa dan negara sangat mudah terjadi. Sifat nasionalisme inilah yang seharusnya dimiliki oleh setiap anggota suatu bangsa dan negara, terutama kaum pemuda. Peran pemuda pada masa penjajahan sangatlah berarti karena peran pemuda pada saat itu merupakan peran terbesar dan terpenting dalam menentukan suatu perubahan sehingga membuahkan  kemerdekaan. Sejarah juga telah  membuktikan bahwa pemuda  bagian terpenting dari kemerdekaan Indonesia, bahkan fakta ini tidak dapat disangkal lagi kebenarannya. Hal itu dapat dibuktikan saat para pemuda dengan tanpa ragu berani mengambil keputusan untuk mengasingkan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok yang kemudian mendesak untuk segera memproklamirkan kemerdekaan.

Sebagaimana diketahui bahwa pemuda Indonesia telah berkiprah jauh sebelum Indonesia merdeka. Keberpihakan pemuda terhadap kepentingan masyarakat luas yang memperjuangkan  kehidupan yang lebih positif merupakan tonggak awal gerakan-gerakan kepemudaan. Para mahasiswa yang merupakan bagian dari pemuda pada tahun 1998 menunjukan perannya dalam mengawal perubahan kehidupan bangsa dengan menggulingkan pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto yang dikenal dengan”Gerakan Reformasi” . Gerakan Reformasi merupakan puncak koreksi pemuda terhadap sistem pemerintahan yang sentralistik,ketidakadilan serta kesenjangan pada masyarakat. Gerakan inilah yang menumbangkan Orde Baru ditandai dengan lengsernya Presiden Soeharto yang digantikan oleh BJ Habibie  sebagai Presiden Indonesia. Walaupun rezim Orde Baru telah berhasil ditumbangkan gerakan-gerakan pemuda secara terus menerus  tetap menyuarakan kepentingan rakyat .

Nampaknya dewasa ini, pemuda sudah tidak lagi memiliki sifat nasionalisme seperti yang telah dicontohkan oleh pemuda terdahulu. Pemuda saat ini lebih cenderung cuek, apatis dan senang mencari jalan pintas. Disamping itu kelemahan pemuda yang mudah menerima perubahan ternyata disalah gunakan. Kini mereka sudah tidak mampu lagi memilih mana perubahan baik yang seharusnya di pelopori dan mana perubahan buruk yang berakibat menjatuhkan. Sikap pemuda yang menyukai hal-hal instan, kurang peduli dan tingkat emosi yang tinggi membuat gejolak sosial sering terjadi. Bukan gejolak dengan penjajah melainkan gejolak antar sesama pemuda satu bangsa, yang membuat perpecahan bangsa semakin mudah untuk terwujud.

Pemuda Indonesia kini mengalami berbagai masalah. Mulai dari aksi protes atau demonstrasi yang tidak sepenuhnya murni untuk kepentingan masyarakat luas. Katakanlah demonstrasi bayaran sampai dengan pola hidup yang tidak bermoral. Demonstrasi bayaran merupakan suatu gerakan atau aksi yang menentang kebijakan-kebijakan pemerintah bukan untuk memperjuangkan kehidupan bangsa melainkan untuk mendapatkan uang atau bayaran. Tidak hanya demonstrasi bayaran, demonstrasi yang telah diatur atau dipesan oleh kekuatan negatifpun merupakan penyebab berubahnya nasionalisme pemuda menjadi materialisme. Kultur inilah yang menjadi penyebab kerusuhan yang terjadi di Indonesia seperti di Poso,Ambon dan lain-lain yang dilatarbelakangi tawuran antar pemuda atau gerakan separatisme bunuh diri yang sebagian besar dilakukan oleh pemuda.

Disamping itu, kecenderungan pola hidup pemuda juga turut mewarnai berbagai gejolak yang marak terjadi di Indonesia. Mulai dari:

  1. Tingkat  pendidikan yang masih rendah
  2. Penyalahgunaan narkoba
  3. Gaya tontonan yang kurang bermoral
  4. Tindak Kriminal

Pola-pola hidup seperti inilah yang telah mengakar pada diri pemuda. Pola hidup yang sangat bernbanding terbalik dengan pola kehidupan pemuda terdahulu. Pemuda yang dulunya selalu menjadi pelopor adanya perubahan-peubahan besar serta selalu bersikap penuh tanggung jawab, gigih dan tidak kenal menyerah, nampaknya kini telah lenyap ditelan jaman. Yakni berubah menjadi pemuda yang memiliki pola hidup yang tidak bermoral. Seperti selalu membuat keonaran dengan saling membunuh satu sama lain, dan membuat kericuhan dimana-mana. Lalu, pemuda yang memiliki pola hidup seperti inikah yang akan menjadi pemimpin bangsa? Nampaknya pertanyaan inilah yang seharusnya menjadi renungan kita bersama agar tidak menyulut konflik yang lebih besar. Pola hidup yang kian berubah dari masa ke masa merupakan sebuah sinyal bagi semua kalangan untuk memulihkan semangat kebangsaan pemuda agar bangsa ini tak berakhir mengenaskan di kemudian hari.

Hal ini berdasarkan pada hasil penyebaran angket yang dijawab oleh 20 responden yang merupakan siswa-siswi dari beberapa SMA di Kabupaten Bangkalan.

Hasil persentase angket.

No. Pertanyaan Pilihan
1. Kalau diajak demo Ya

30 %

Tidak

70 %

2. Kalau diajak rapat untuk menjadi panitia peringatan hari besar nasional Ya

55 %

Tidak

45 %

3. Jika disuruh memilih, mana yang akan anda pilih Presiden

 

45 %

Wakil Presiden

 

15 %

Tidak memilih apa-apa

40%

4. Apabila memiliki keinginan yang tidak tercapai, apa yang akan anda lakukan Pasrah

 

20 %

Mengulangi

 

65 %

Tidak mau mencoba

15 %

 

Dari hasil angket inilah, kami berpendapat bahwa sebagian besar pemuda tidak memiliki keinginan untuk melakukan gerakan anarkis namun gerakan yang terjadi saat ini menunjukkan ketidakmampuan pemuda dalam memfilter hal-hal negatif dari arus medernisasi. Sama halnya dengan pengambilan tanggung jawab, yakni berdasarkan angket nomor 3 dan 4 kami berpendapat bahwa sebenarnya pemuda berani dalam mengambil tanggung jawab namun karena tida adanya motivasi keinginan ini menjadi luntur.

Oleh karena itu, perhatian dari semua kalangan akan menjadi sangat penting untuk menunjukan rasa kepedulian bersama dalam mengatasi masalah yang terjadi. Namun tertap saja semua itu juga harus diawali oleh kesadaran diri pemuda masing-masing. Karena  tanpa adanya kesadaran diri pemuda sendiri, perhatian dari semua kalangan akan menjadi sia-sia.Dengan kata lain, jika pemuda tidak peduli dengan dirinya sendiri itu artinya pemuda juga tidak akan peduli dengan nasib bangsanya. Lalu, bagaimanakah seorang pemuda bisa memimpin negarangya sedangkan ia gagal dalam memimpin dirinya sendiri? Persoalan inilah yang harus segera ditutaskan agar kiprah pemuda tetap dapat dirasakan oleh masyarakat umum, dan sifat nasionalisme pemuda tidak hilang begitu saja oleh jaman yang semakin memanjakan keadaan pemuda.

Dengan mencermati gejala-gejala diatas, maka perlu adanya langkah-langkah yang konkrit dalam menyelesaikannya. Pendekatan yang bisa dilakukan adalah dengan melalui proses pendidikan. Setiap anggota masyarakat terutama pemuda, tentu pernah mengalami proses pendidikan, bahkan dari usia dini mereka sudah bergelut di dunia pendidikan. Ini artinya masa memimpni bukan masa pemuda saat ini melainkan masa pendidikanlah masa pemuda saat ini.

Pendidikan merupakan wahana untuk memajukan pemuda di berbagai aspek serta sebuah pintu untuk mengembangkan kemampuan-kemampuannya. Dengan pendidikan itulah, pemuda akan dibimbing pada satu keadaan dimana dia mampu berperan secara maksimal untuk masa depannya sekaligus untuk masa depan bangsanya. Untuk mengembangkan potensi pemuda, tidak hanya kematangan dalam proses pendidikan saja yang diperlukan melainkan pemberian keterampilan serta kepercayaan kepada pemuda juga diperlukan. Pada dasarnya proses pendidikan merupakan investasi jangka panjang pemerintah untuk mempersiapkan generasi-generasi bangsa yang lebih baik. Singkat kata, jika pendidikan yang dimiliki suatu bangsa atau pemuda rendah itu artinya tidak ada kesiapan pemuda dalam memimpin bangsa.

Dalam kapasitas pemuda yang merupakan tumpuan dan harapan masa depan bangsa, pemuda dituntut untuk siapmengambil tanggung jawab yang sangat dibutuhkan dimasa yang akan datang. Pada kondisi seperti inilah pemuda wajib membekali diri dengan sikap nasionalisme yang matang dan benar. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa masyarakat Indonesia yang majemukdimana berbeda suku, etnis, bahasa dan perilaku sosial.

Sikap nasionalisme pemuda yang benar akan mempengaruhi pola pikir serta perilaku pemuda dalam memberikan kotribusi terbaiknya untuk negara. Namun, jika kita mencermati gejala-gejala yanga ada saat ini pemuda sudah tidak lagi memiliki motivasi untuk meningkatkan nasionalisme. Hal ini yang membuat pemuda enggan dalam mengambil tanggung jawab dan amanah.

Keengganan pemuda ini tentunya akan berimplikasi pada eksistensi bangsa Indonesia di masa yang akan datang. Padahal, kita tahu yang dihadapi pemuda dimasa yang akan datang adakah masyarakat masa depan yang terbuka dan penuh dengan sarat kompetisi. Lalu, bagaimanakah nasib bangsa Indonesia jika para pemuda tidak memiliki motivasi intuk berbenah. Tentunya bangsa Indonesia akan semakin tertinggal jauh oleh bangsa lain. Maka dari itu, pemuda Indonesia harus mampu menjadi pemuda yang unggul, kompetitif, kreatif dan bernasionalisme yang tinggi. Dengan kata lain, pemuda harus berani mengambil tanggung jawab dan amanah yang dimulai dari hal kecil dan segera berbenah diri untuk mengejar ketertinggalan bangsa dalam berbagai aspek.

 

  1. III.           Kesimpulan dan Solusi

Kesimpulan

Pemuda merupakan generasi penerus bangsa, namun saat ini terjadi perbandingan sifat pemuda yang mencolok yakni berubahnya nasionalisme pemuda menjadi materialisme. Sifat materialistic pemuda ditambah dengan pola hidup serta gaya tontonan yang tidak bermoral telah merusak jati diri pemuda masa kini. Disamping itu, pemuda juga enggan dalam mengambil tanggung jawab yang akan diembannya kelak. Ini disebabkan karena tidak adanya motivasi pemuda untuk berbenah diri untuk mengejar ketertinggalan bangsa. Oleh karena itu, perlu adanya langkah-langkah kongkrit dalam menyelesaikannya yakni melalui proses pendidikan, agar kiprah pemuda tetap dapat dirasakan oleh masyarakat luas.

Solusi

  1. Merekontruksikan dunia pendidikan.
  2. Menaiikan promosi gemar belajar dengan meningkatkan kualitas pembelajaran melalui berbagai media.
  3. Mereformasi dunia tontonan.

Pemberian kepercayaan kepada pemuda.

download kiprah Pemuda terhadap bangsa

Categories: Bahasa Indonesia | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: